Tuesday, March 20, 2007

Doa Untuk Orang Tua...

Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.

Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.

Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.

Ya Allah,

Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim

Saturday, March 17, 2007

Tangan Ibuku......

Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru.

Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.

Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.

Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut.

Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.

Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini.

Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan

Ibu...

Ibu.......

Sholat subuh baru hampir tiba ketika pintu rumah kost kami diketuk seseorang. Bapak kostku yang sudah siap berangkat ke masjid hendak adzan subuh, membuka pintu. Tak kuduga… yang datang, ibuku.



Akupun segera bangkit dari tempat tidur, menyambut kehadirannya dengan suka cita. Walau badanku masih lemah setelah hampir sebulan tergolek ditempat tidur, aku berusaha untuk terlihat sehat. Aku tak ingin ibu melihatku sakit.



Sebenarnya aku tak memberi tahu kepada ibu bahwa aku sedang sakit, karena aku kawatir ia menjadi sedih dan harus bersusah payah datang ke kostku untuk melihatku, walaupun hatiku sangat menginginkan kehadirannya. Namun, begitulah ibuku. Setiap kami, anak-anaknya ada yang kurang sehat, selalu saja tiba-tiba datang. Beliau katakan kepada kami, bahwa wajah kami terbayang-bayang dimatanya, atau suara kami terngiang-ngiang ditelinganya, seakan-akan memanggilnya. Yang baginya, itu adalah sebuah pertanda, bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada kami anak-anaknya.



Subhanallaah. Seorang ibu memang memiliki perasaan yang tajam. Tidak sekali dua kali hal itu terjadi. Tetapi hampir setiap kali diantara kami ada yang sakit. Dan kehadiran ibu bagaikan obat mujarab kesembuhan. Seperti pagi itu, serta merta aku merasa sehat. Tubuh yang sebelumnya terasa demikian lemah bagaikan memperoleh energi baru. Aku mampu berjalan sempurna, dan hari berikutnya aku dapat masuk kerja kembali.



Demikian agungnya cinta kasih ibu, sehingga darinya kuperoleh energi dahsyat yang menguatkanku untuk melakukan segala sesuatu. Yang darinya kuperoleh berbagai pelajaran bermakna, yang dapat menuntunku mengarungi kehidupan masa datang. Kesederhanaannya, membimbingku untuk mampu menjalani hidup sederhana. Kesabarannya, mengantarkanku menjadi manusia yang tahu makna kehidupan dan arti pengorbanan. Ketegarannya menghadapi masalah hidup, mengajarkanku untuk selalu optimis. Kesungguhannya bekerja, mengajariku untuk memanfaatkan setiap waktu dengan sebaik-baiknya.



Keagungan cinta kasih yang takkan terbalas sampai kapanpun dan dengan apapun. Pengorbanannya untuk membesarkan anak-anaknya tak sebanding dengan bakti sang anak padanya. Kebahagiaannya, bila melihat anaknya bahagia.

Kini, demikian jauh jarak antara kami. Kerinduan demi kerinduan hanya mampu kuobati dengan komunikasi jarak jauh melalui telepon atau surat. Tak mudah bagiku untuk bertemu, merasakan belaiannya, bermanja-manja sambil tiduran dipangkuannya, atau hanya sekedar menatap wajah teduhnya.



Hari ini, rinduku padanya demikian dalam, namun sulit bagiku untuk dapat menemuinya. Sulit pula bagi ibuku untuk mengunjungiku. Karena jarak yang demikian jauh, biaya yang sangat tinggi.



Robb, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kami kecil,

Robb, janganlah Engkau timpakan beban yang berat kepada orang tua kami karena kesalahan yang kami lakukan,

Jangan pula Engkau siksa orang tua kami karena perbuatan kami,

Bimbinglah kami untuk menjadi anak-anak yang sholeh yang selalu mendo'akan mereka, yang akan menjadi pahala yang tak terputus baginya. Aamiin.

(untuk yang selalu kurindu... ibuku)

Friday, March 2, 2007

Kisah sebuah hati

Ketika sebongkah es membungkus jantung
Sebutir bintang memancarkan sinar
Mengalirkan panas
Mencairkan hati yang sekian lama beku
Menghidupkan jiwa yang sekian lama mati

Nyala bintang semakin terang
Pintu hati tlah dibuka
Ajak bintang menari di angkasa
Awan langitpun terusir
Kilau hati dan bintang kian mempesona

Tibalah kini di ujung pagi
Bintangpun harus pergi
meninggalkan hati
Haruskah hati mati dan membeku lagi .........

Unidentified Soulmate

Mendung di langit perlahan
meneteskan air matanya yang biasa kita sebut "hujan"

Kesedihan bertambah dingin
mengiringi kepergian seorang putri
melintasi jarak untuk menempuh waktu yang tidak pasti

Jangan menungguku untuk mengatakan "aku cinta padamu"
karena aku takkan melakukan hal itu
Biarlah aku yang menunggumu,
untuk suatu saat mengatakan "maukah kau menikah denganku"

soulmate,
antara aku dan kamu atau mungkin bukan kamu,
tinggalkan jejak kasih sayang diantara dera hujan senja
ku ucapkan terimakasih atas semua
sehingga aku merasa diriku ada
untuk menunggu kamu? atau bukan kamu.

peluh bercampur air hujan
membalut jasat termenung sendiri
meratapi perpisahan

soulmate
selamat jalan...

Maafkan Aku ...

Saat diriku dijejali pertanyaan
Pantaskah, atau tidak pantaskah
Tetap istiqomah berjuang, ataukah ikhlas

Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab
ketika sudah waktunya kukerjakan kewajibanku
Kewajiban bukan untuk siapa-siapa
tapi untuk-Nya

Khawatirkah diriku akan dirimu
ketika semua tidak berjalan normal
ketika ada sisi gelap dalam hatimu yg belum pernah aku sentuh
entah itu ternyata baik atau enggak

Kita punya kehidupan, kamu punya
aku punya impian, dan kamu juga
semoga semua itu tidak saling bersinggungan dan menimbulkan kesedihan

Maafkan aku untuk semua ini
maafkan aku karena terlalu menghawatirkanmu
maafkan aku tak bisa melihatmu bersedih

Ya Alloh, mudahkan semua urusan
Kepada mereka yang aku sayangi dan menyayangi-Mu
Berikanlah ketebahan hati dan ketenangan jiwa padaku
Hingga jasatku ditinggalkan ruh