Sabtu, 12 Mei 2007
Buku "Al-Quran Dihujat" mengulas si penghujat Al-Quran garda depan, Prof.
Dr. Nasr Hamid Abu Zayd. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini
ke-194
Oleh: Adian Husaini
Bulan Mei 2007 ini, peneliti INSISTS, Henri Shalahuddin MA telah menerbitkan
sebuah buku berjudul "Al-Quran Dihujat" (Jakarta: GIP). Buku ini sangat
penting dalam perspektif kajian pemikiran Islam di Indonesia saat ini.
Secara umum, buku ini berisi kritik terhadap pemikiran Prof. Nasr Hamid Abu
Zayd, pakar sastra Arab Mesir yang terkenal dengan teorinya bahwa Al-Quran
adalah produk budaya Arab. Dari isi dan literatur rujukannya, tampak buku
ini dipersiapkan cukup serius. Berbagai karya Abu Zayd ditelaah dan
diberikan kritiknya.
Abu Zayd memang telah divonis murtad oleh Mahkamah di Mesir, dan kemudian
lari ke Belanda. Di negara kolonial inilah, Abu Zayd diberi tempat terhormat
sebagai guru besar ilmu Al-Quran di Universitas Leiden. Dari sini pula Abu
Zayd mengkader lusinan dosen UIN/IAIN untuk menyebarkan pahamnya di
Indonesia.
Karena itu, tidak heran, jika hasil penelitian Litbang Departemen Agama
tentang paham Liberal keagamaan di sekitar kampus UIN Yogya menyatakan,
bahwa bagi kaum liberal: "Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci
dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya
(muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid.
Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir
konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman."
Buku-buku Abu Zayd memang sudah banyak yang diterjemahkan di Indonesia.
Dalam salah satu buku terjemahan karya Abu Zayd berjudul "Hermeneutika
Inklusif" terbitan ICIP, Nash Hamid Abu Zayd dimasukkan ke dalam ketegori
"pemikir pemberontak" (dissident Muslim thinkers). Tetapi, ditulis di sini,
bahwa "Julukan pemikir pemberontak ini tidak dimaksudkan sebagai julukan
yang negatif, akan tetapi ditujukan untuk menamai sebagian kelompok pemikir
Islam yang memiliki pemikiran terobosan dan cenderung melakukan reformasi
terhadap status quo pemikiran Islam. Corak pemikiran seperti itu, tidak
hanya dibutuhkan pada masa transisi, akan tetapi juga sangat dibutuhkan pada
masa stabil."
Itulah penghormatan terhadap Abu Zayd yang dilakukan oleh sebuah lembaga
penyebar paham Pluralisme Agama pimpinan Dr. Syafii Anwar tersebut. Salah
satu pemuja Abu Zayd yang terkenal adalah Rektor Uin Yogya, Prof. Dr. Amin
Abdullah. Itu bisa dilihat dalam bukunya yang berjudul "Islamic Studies di
Perguruan Tinggi" (2006). Kini, berbagai kampus di Indonesia memang sudah
mulai dijejali dengan pemuja Abu Zayd. Bahkan, pendapat-pendapatny a sudah
mulai diekspose melalui media massa.
Sejumlah murid kesayangan Abu Zayd pun sudah menduduki pos-pos terhormat
sebagai dosen-dosen ilmu Al-Quran di UIN Jakarta dan UIN Yogya. Mereka
leluasa mendiktekan pemikirannya kepada para mahasiswa, dan bahkan berwenang
menyusun kurikulum dalam studi Al-Quran yang sejalan dengan pemikiran Abu
Zayd. Kaum Muslimin di Indonesia, banyak yang tidak menyadari masalah besar
ini dan membiarkan anak-anaknya dicekoki paham Abu Zayd.
Penulis buku ini, Henri Shalahuddin, yang merupakan alumnus pesantren Gontor
Ponorogo dan kini aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah Mohammad
Natsir Jakarta, berhasil membongkar kekeliruan pemikiran Abu Zayd dan
menyimpulkan, bahwa yang dilakukan Abu Zayd beserta para pemujanya di
lingkungan UIN/IAIN lebih merupakan hujatan terhadap Al-Quran, bukan
merupakan kajian ilmiah yang ikhlas dan serius. Karena itulah, dia tidak
ragu-ragu untuk menyatakan, bahwa apa yang dilakukan Abu Zayd dan para
pemujanya adalah sebuah upaya mengujat dan merusak Al-Quran.
Menurut penulis buku ini, dewasa ini, Al-Quran dihujat tidak hanya secara
fisik, tapi juga melalui penyelewengan konsep wahyu dan metodologi tafsir.
Penghujatan Al-Quran yang saat ini marak dilakukan bukan dengan membuang
mushaf ke toilet, atau menginjak dan membakarnya di depan kaum Muslimin.
Penghujatan Al-Quran non-fisik, dilakukan dengan menggunakan 'metode ilmiah'
yang tidak mudah dipahami dan disadari oleh kebanyakan kaum Muslimin. Sebab,
banyak di antara pelakunya adalah cendekiawan dengan titel professor, doktor
maupun rektor, sehingga banyak yang kemungkinan mudah tertipu dan
menyangkanya sebagai suatu kebenaran ilmiah.
Dan Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd adalah salah satu garda terdepan penghujat
Al-Quran saat ini. Tokoh liberal kenamaan asal Mesir ini kabur dari
negaranya, setelah pengajuan kepangkatan gelar proffesor ditolak,
karya-karyanya dinilai tidak bermutu dan bahkan cenderung melecehkan ajaran
Islam, Rasulullah saw dan Imam Syafii. Menyusul setelah itu, vonis mahkamah
yang memutuskan bahwa dirinya telah murtad. Dia pun kabur ke Belanda dan di
sana memperoleh penghargaan layaknya seorang pahlawan.
Di samping memandang Al-Quran sebagai produk budaya, Abu Zayd juga
memposisikan Al-Quran sebatas teks manusiawi (nash insani), teks linguistik
(nass lughawi) dan fenomena sejarah (zhahirah tarikhiyyah). Sebagai teks
linguistik, misalnya, Abu Zayd mengklaim bahwa Al-Quran terpengaruh oleh
tradisi dan budaya Arab pra-Islam. Sebab baginya, dengan menggunakan bahasa
Arab, berarti wahyu tidak turun ditempat yg hampa. Ibarat kata pepatah,
bahwa bahasa menunjukkan budaya, maka demikian halnya dengan Al-Quran.
Sebagai teks manusiawi, kata dia, kebenaran Al-Quran yang bersifat mutlak
hanya berada di lauhul mahfuzh. Namun kebenaran yang mutlak tersebut menjadi
relatif ketika masuk dan berinteraksi dengan akal pikiran manusia. Dengan
demikian, seorang Muslim tidak boleh mengklaim bahwa pemahamannya terhadap
Al-Quran lebih benar dari orang lain, atau bahwa pemahamannya sudah sesuai
dengan apa yang dimaui oleh Tuhan. Karena manusia adalah relatif, maka
kebenaran yang dicapainya pun juga relatif. Sehingga Abu Zayd
mengkategorikan orang yang mengatakan bahwa kebenaran Al-Quran yang dia
pahami adalah absolut, berarti telah menyamakan dirinya dengan Tuhan.
Ide Abu Zayd tentang teks manusiawi ini, --di samping ide-idenya yang
lain--, banyak diminati dan dipropagandakan oleh para tokoh-tokoh Islam yang
menganut pada paham relativisme kebenaran. Sebuah paham yang mendasari
aliran-aliran liberalisme, sekularisme, feminisme dan pluralisme agama.
Sebagai teks manusiawi dan teks linguistik sekaligus, Abu Zayd mendudukkan
Al-Quran sama seperti Bibel yang semua isi ajarannya tidak harus diterapkan.
"According to Christian doctrine, not everything that Jesus said was said as
the Son of God. Sometimes Jesus behaved just as a man." (Abu Zayd, Voice of
an Exile: 174-5).
Sehingga tidak aneh, jika Abu Zayd lalu menggugat pengharaman homoseksual
dan mengecam keras orang yang masih menganggapnya sebagai prilaku menyimpang
(voice. hal 89). Karena menurutnya, haramnya homoseksual lebih karena
konteks lokalitas budaya. Sehingga, di bukunya yang lain, al-Imam al-Syafi'i
wa Ta'sis al-Aidiyulujiyyah al-Wasathiyyah, dia menyeru umat Islam untuk
meninggalkan Al-Quran dan Hadits, karena dianggapnya telah memasung
kebebasan akal manusia (hal.146)
Tidak puas menghujat Al-Quran, Abu Zayd juga menghujat para ulama yang
menjunjung tinggi kewahyuan Al-Quran. Di antara ulama yang dijadikan sasaran
hujatannya itu adalah Imam Syafi'i. Beliau dituduh sebagai ulama oportunis
yang suka bekerjasama dengan penguasa demi mendapatkan dunia. Beliau juga
dituduh telah mengangkat kedudukan hadits, sehingga menjadi kitab nomor dua
setelah Al-Quran di mata kaum Muslimin. Lebih dari itu, Imam Syafi'i juga
dituduh menyebarkan hegemoni suku Quraisy atas suku-suku Arab lainnya dalam
agama Islam, terkait dengan pandangan beliau tentang bahasa Arab Al-Quran.
Dengan keberanian Abu Zayd dalam menghujat Al-Quran dan Imam Syafii, jangan
heran, jika kaum liberal di Indonesia pun menyambut pendapat Abu Zayd dengan
gegap gempita dan menganggapnya sebagai tokoh hebat. Selain di ruang-ruang
kuliah di bangku UIN/IAIN/STAIN dan sebagainya, para penganut dan pemuja Abu
Zayd pun sudah berani secara terbuka menghujat Al-Quran melalui media massa.
Koran Tempo, (4/5/2007) menurunkan sebuah artikel berjudul "Pewahyuan
Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah", yang memaparkan bahwa Al-Quran adalah
karya bersama antara Allah, Roh Kudus dan Muhammad.
Sebelumnya, telah berjubel artikel, buku, makalah seminar dan sebagainya
yang cenderung menghujat Al-Quran. Ternyata jika diteliti, ujung-ujungnya,
yang dijadikan rujukan para penghujat Al-Quran itu adalah Abu Zayd. Bahkan,
saat Abu Zayd berkunjung ke Indonesia, di antara aktivis liberal di
Indonesia, ada yang begitu memujanya, sampai-sampai menuliskan kekagumannya
tentang selera makan Abu Zayd dan cara memilih toilet. (Lihat, buku
"Al-Quran Dihujat", hal 96). Sebuah alasan yang tidak seharusnya dilakukan
oleh kalangan yang mengidentitaskan dirinya dengan sikap rasional dan
keterbukaan.
Bahaya terbesar dari penghujatan Al-Quran non-fisik adalah menyesatkan akal
pikiran umat Islam yang hendak kembali pada ajaran Al-Quran dan Hadits
secara benar. Sebab konsep wahyu Al-Quran yang bersifat final dan universal
untuk segala tempat dan zaman akan digeser dengan konsep evolusi Darwin.
Dengan itu, kebenaran Al-Quran hanya bersifat temporal dan lokal, khusus
untuk suatu masa, bangsa dan tempat tertentu. Begitu juga, hukum-hukum Islam
akan dinilai sebagai hukum yang bersifat temporal dan spatial, hanya berlaku
untuk kurun waktu dan tempat tertentu. Maka, mereka rajin membuat perbedaan,
bahwa ajaran dan hukum-hukum Islam harus ditinjau ulang sesuai dengan
perkembangan zaman.
Abu Zayd juga seorang hermeneut, yaitu pengguna hermeneutika untuk
menafsirkan Al-Quran. Metodologi tafsir Al-Quran yang telah dikembangkan
oleh para ulama berwibawa yang memperhatikan segala aspek dalam memahami
Al-Quran digusur dengan metodologi hermeneutika produk Yahudi dan Kristen.
Padahal, metode tafsir Al-Quran jauh lebih ilmiah, dibanding teori
interpretasi hermeneutika yang tengah dikembangkan neo-orientalis di
berbagai perguruan tinggi di Indonesia saat ini. Inilah sesungguhnya salah
satu tantangan kontemporer yang terbesar yang dihadapi umat Islam Indonesia
dewasa ini.
Umat Islam saat ini memerlukan puluhan ribu hujjatul Islam, syeikul Islam
dan generasi Al-Quran yang memperjuangkan ajaran Islam secara kafah dalam
menghadapi perongrongan global akidah dan syariat Islam. Berkenaan dengan
ilmu pengetahuan, dalam bab tanda-tanda ulama baik dan ulama jahat, Imam
Ghazali dalam bukunya, Ihya 'Ulumiddin dan Abu Thalib al-Makki, dalam
bukunya, Qut al-Qulub, menjelaskan ragam golongan manusia dengan menukil
pendapat Al-Khalil ibn Ahmad yang mengatakan:
"Manusia itu empat golongan: 1) orang yang tahu, sedang dirinya tahu
(menyadari) bahwa dirinya tahu, dia itulah si cerdik pandai ('alim), maka
ikutilah dia. 2) orang yang tahu, sedang dirinya tidak tahu (tidak
menyadari) kalau dirinya tahu, dia itu ibarat orang yang tidur, maka
bangunkanlah ia. 3) orang yang tidak tahu, sedangkan dia tahu bahwa dirinya
tidak tahu, dialah si pencari pentunjuk (mustarsyid), maka berilah dia
petunjuk (bimbingan). 4) orang yang tidak tahu, sedangkan dia tidak tahu
kalau dirinya tidak tahu, itulah orang jahil, maka tolaklah (hindarilah,
abaikanlah, atau sangkallah) ia.
Mengembalikan kejayaan Islam, harus dimulai dari pembangunan budaya ilmu.
Adalah sangat celaka jika ilmu-ilmu agama telah dirusak oleh orang-orang
yang menduduki posisi-posisi terhormat sebagai dosen-dosen bidang Al-Quran
di lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam. Kita patut meratapi nasib
mahasiswa-mahasiswa Islam yang kini menimba ilmu-ilmu keislaman di berbagai
kampus berlabel Islam, karena dipaksa mengikuti pemikiran-pemikiran yang
merusak keyakinan mereka sebagai Muslim. Al-Quran yang dipahami oleh umat
Islam sebagai wahyu Allah yang suci dihujat oleh agen-agen neo-orientalis
seperti Abu Zayd dan para anak buahnya di Indonesia. Sementara itu,
pemerintah dan pimpinan kampus mendiamkan saja masalah ini.
Maka, kita tidak perlu heran, jika setiap tahun ribuan orang belajar di
fakultas ushuluddin dan fakultas syariah, tetapi justru dari situ pula
muncul sejumlah orang yang aktif menolak aqidah dan syariah Islam. Dalam
bukunya ini, Henri Shalahuddin telah membuka mata kita akan satu tantangan
yang sangat besar yang dihadapi oleh umat Islam. Dia pun memberikan
jawaban-jawaban yang jitu yang menunjukkan dimana kelemahan pendapat Abu
Zayd dan pemujanya di lingkungan UIN/IAIN saat ini. Semoga buku ini memberi
manfaat besar dalam pengembangan studi pemikiran dan peradaban Islam di
Indonesia. Juga, semoga para pemuja Abu Zayd bertobat dari kekeliruannya dan
menghentikan aksi-aksinya dalam menghujat Al-Quran. Tugas kita hanyalah
mengingatkan. Masing-masing kita bertanggung jawab atas amal kita
masing-masing. [Depok, 11 Mei 2007/www.hidayatullah.com]
Sunday, May 20, 2007
Wednesday, May 9, 2007
Kode Babi Pada Makanan Berkemas
Assalamu'alaikum, sekedar mengingatkan kembali
Untuk diketahui.
Oleh Dr.M.Anjad Khan
Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja
sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan
(POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya adalah mencatat
semua merek barang, makanan dan obat-obatan.
Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke
pasaran, bahan-bahan produk tersebut harus terlebih
dahulu mendapat ijin dari Badan pengawas Obat dan
Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan
tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui
berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak
dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah
ilmiah namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam
bentuk matematis seperti E-904, E-141.
Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis
tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode
matematis tersebut kepada seorang perancis yang
berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab
" KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA.
Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh
Sahib dan dia kemudian mulai mencari tahu kode
matematis tersebut dalam dokumen yang ada. Ternyata
apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di
dunia.
Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan
utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi
sangat banyak di negara-negara tersebut. Di perancis
sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari
42.000.
Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi
dibandingkan dengan hewan lainnya. Namun orang eropa
dan amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut.
Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang; dikemanakan
lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah:
Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam
pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan
tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan
dari daging babi.
Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak
tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk
memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal
ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak
tersebut dan ternyata itu berhasil.
Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas
sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu
negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang
mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan,
obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh
karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi
dicantukam dengan nama Pig Fat(lemak babi) pada
kemasan produk. Mereka yang sudah tinggal di Eropa
selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.
Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang
masuk ke negara-negara Islam pada saat itu sehingga
menimbulkan defisit perdagangan bagi negara
pengekspor. Menoleh ke masa lalu, jika anda hubungkan
dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang faktor
yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru
senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua
melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu
berbulan-bulan hingga mencapai tempat tujuan sehingga
bubuk mesiu yang ada di dalamnya mengalami kerusakan
karena terkena air laut.
Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru
tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut
harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum
digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut
tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan
Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan
daging), maka tentara - tentara tersebut menolak
berperang sehingga mengakibatkan perang saudara (
civil war ).
Negara-negara Eropa mengakui fakta tersebut dan
kemudian menggantikan penulisan lemak babi dalam
kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang
yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 - an
mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh
pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan
tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah
lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak
tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan
ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam. Oleh
karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang
masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya,
perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah
keuangan yang sangat serius karena 75% penghasilan
mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara
islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa
mencapai milliaran dolar.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi
bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara
orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali
dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat di
banyak produk perusahaan multinasional termasuk pasta
gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula,
biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan
beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis
produk makanan & obat-obatan lainnya. Semenjak produk
- produk tersebut di atas banyak dikonsumsi oleh
negara-negara muslim, kita sebagai masyarakat muslim
tidak terkecuali sedang menghadapi masalah penyakit
masyarakat yakni hilangnya rasa malu,kekerasan dan
seks bebas(kumpul kebo ).
Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam
untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk
yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan
daftar kode E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode-
kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita
beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk
dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung
lemak babi.
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213, E214,
E216, E234,E252,E270, E280, E325,E326, E327, E334,
E335, E336, E337, E422, E430,E431, E432, E433,E434,
E435, E436, E440,E470, E471, E472, E473, E474,
E475,E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492,
E493,E494, E495, E542,E570, E572, E631, E635, E904.
Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam
untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan
informasi ini kepada saudara-saurdara kita.
M.Anjad Khan Medical Research Institute United States
cokelat cadbury, ternyata ada kode E476, dikemasan
tertulis soya lecithin lho...dan udah ada label halal
dr MUI pula. gimana nih...
Untuk diketahui.
Oleh Dr.M.Anjad Khan
Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja
sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan
(POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya adalah mencatat
semua merek barang, makanan dan obat-obatan.
Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke
pasaran, bahan-bahan produk tersebut harus terlebih
dahulu mendapat ijin dari Badan pengawas Obat dan
Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan
tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui
berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak
dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah
ilmiah namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam
bentuk matematis seperti E-904, E-141.
Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis
tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode
matematis tersebut kepada seorang perancis yang
berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab
" KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA.
Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh
Sahib dan dia kemudian mulai mencari tahu kode
matematis tersebut dalam dokumen yang ada. Ternyata
apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di
dunia.
Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan
utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi
sangat banyak di negara-negara tersebut. Di perancis
sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari
42.000.
Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi
dibandingkan dengan hewan lainnya. Namun orang eropa
dan amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut.
Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang; dikemanakan
lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah:
Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam
pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan
tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan
dari daging babi.
Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak
tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk
memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal
ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak
tersebut dan ternyata itu berhasil.
Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas
sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu
negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang
mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan,
obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh
karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi
dicantukam dengan nama Pig Fat(lemak babi) pada
kemasan produk. Mereka yang sudah tinggal di Eropa
selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.
Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang
masuk ke negara-negara Islam pada saat itu sehingga
menimbulkan defisit perdagangan bagi negara
pengekspor. Menoleh ke masa lalu, jika anda hubungkan
dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang faktor
yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru
senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua
melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu
berbulan-bulan hingga mencapai tempat tujuan sehingga
bubuk mesiu yang ada di dalamnya mengalami kerusakan
karena terkena air laut.
Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru
tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut
harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum
digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut
tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan
Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan
daging), maka tentara - tentara tersebut menolak
berperang sehingga mengakibatkan perang saudara (
civil war ).
Negara-negara Eropa mengakui fakta tersebut dan
kemudian menggantikan penulisan lemak babi dalam
kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang
yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 - an
mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh
pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan
tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah
lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak
tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan
ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam. Oleh
karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang
masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya,
perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah
keuangan yang sangat serius karena 75% penghasilan
mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara
islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa
mencapai milliaran dolar.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi
bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara
orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali
dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat di
banyak produk perusahaan multinasional termasuk pasta
gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula,
biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan
beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis
produk makanan & obat-obatan lainnya. Semenjak produk
- produk tersebut di atas banyak dikonsumsi oleh
negara-negara muslim, kita sebagai masyarakat muslim
tidak terkecuali sedang menghadapi masalah penyakit
masyarakat yakni hilangnya rasa malu,kekerasan dan
seks bebas(kumpul kebo ).
Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam
untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk
yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan
daftar kode E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode-
kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita
beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk
dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung
lemak babi.
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213, E214,
E216, E234,E252,E270, E280, E325,E326, E327, E334,
E335, E336, E337, E422, E430,E431, E432, E433,E434,
E435, E436, E440,E470, E471, E472, E473, E474,
E475,E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492,
E493,E494, E495, E542,E570, E572, E631, E635, E904.
Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam
untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan
informasi ini kepada saudara-saurdara kita.
M.Anjad Khan Medical Research Institute United States
cokelat cadbury, ternyata ada kode E476, dikemasan
tertulis soya lecithin lho...dan udah ada label halal
dr MUI pula. gimana nih...
Tuesday, March 20, 2007
Doa Untuk Orang Tua...
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.
****
Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita.
Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.
Istighfar, istighfarlah
Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang
memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka siksanya didahulukan didunia ini.
Istighfar yang pernah mendholimi ibu bapaknya.
Astaghfirullahal Adhiim
Astaghfirullahal Adhiim
Saturday, March 17, 2007
Tangan Ibuku......
| Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. |
| Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. |
| Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. |
| Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. |
| Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. |
| Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. |
| Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. |
| Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. |
| Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya. |
| Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. |
| Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. |
| Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan |
| Ibu... |
Ibu.......
| Sholat subuh baru hampir tiba ketika pintu rumah kost kami diketuk seseorang. Bapak kostku yang sudah siap berangkat ke masjid hendak adzan subuh, membuka pintu. Tak kuduga… yang datang, ibuku. |
| Akupun segera bangkit dari tempat tidur, menyambut kehadirannya dengan suka cita. Walau badanku masih lemah setelah hampir sebulan tergolek ditempat tidur, aku berusaha untuk terlihat sehat. Aku tak ingin ibu melihatku sakit. |
| Sebenarnya aku tak memberi tahu kepada ibu bahwa aku sedang sakit, karena aku kawatir ia menjadi sedih dan harus bersusah payah datang ke kostku untuk melihatku, walaupun hatiku sangat menginginkan kehadirannya. Namun, begitulah ibuku. Setiap kami, anak-anaknya ada yang kurang sehat, selalu saja tiba-tiba datang. Beliau katakan kepada kami, bahwa wajah kami terbayang-bayang dimatanya, atau suara kami terngiang-ngiang ditelinganya, seakan-akan memanggilnya. Yang baginya, itu adalah sebuah pertanda, bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada kami anak-anaknya. |
| Subhanallaah. Seorang ibu memang memiliki perasaan yang tajam. Tidak sekali dua kali hal itu terjadi. Tetapi hampir setiap kali diantara kami ada yang sakit. Dan kehadiran ibu bagaikan obat mujarab kesembuhan. Seperti pagi itu, serta merta aku merasa sehat. Tubuh yang sebelumnya terasa demikian lemah bagaikan memperoleh energi baru. Aku mampu berjalan sempurna, dan hari berikutnya aku dapat masuk kerja kembali. |
| Demikian agungnya cinta kasih ibu, sehingga darinya kuperoleh energi dahsyat yang menguatkanku untuk melakukan segala sesuatu. Yang darinya kuperoleh berbagai pelajaran bermakna, yang dapat menuntunku mengarungi kehidupan masa datang. Kesederhanaannya, membimbingku untuk mampu menjalani hidup sederhana. Kesabarannya, mengantarkanku menjadi manusia yang tahu makna kehidupan dan arti pengorbanan. Ketegarannya menghadapi masalah hidup, mengajarkanku untuk selalu optimis. Kesungguhannya bekerja, mengajariku untuk memanfaatkan setiap waktu dengan sebaik-baiknya. |
| Keagungan cinta kasih yang takkan terbalas sampai kapanpun dan dengan apapun. Pengorbanannya untuk membesarkan anak-anaknya tak sebanding dengan bakti sang anak padanya. Kebahagiaannya, bila melihat anaknya bahagia. |
| Kini, demikian jauh jarak antara kami. Kerinduan demi kerinduan hanya mampu kuobati dengan komunikasi jarak jauh melalui telepon atau surat. Tak mudah bagiku untuk bertemu, merasakan belaiannya, bermanja-manja sambil tiduran dipangkuannya, atau hanya sekedar menatap wajah teduhnya. |
| Hari ini, rinduku padanya demikian dalam, namun sulit bagiku untuk dapat menemuinya. Sulit pula bagi ibuku untuk mengunjungiku. Karena jarak yang demikian jauh, biaya yang sangat tinggi. |
| Robb, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami sejak kami kecil, |
| Robb, janganlah Engkau timpakan beban yang berat kepada orang tua kami karena kesalahan yang kami lakukan, |
| Jangan pula Engkau siksa orang tua kami karena perbuatan kami, |
| Bimbinglah kami untuk menjadi anak-anak yang sholeh yang selalu mendo'akan mereka, yang akan menjadi pahala yang tak terputus baginya. Aamiin. (untuk yang selalu kurindu... ibuku) |
Friday, March 2, 2007
Kisah sebuah hati
Ketika sebongkah es membungkus jantung
Sebutir bintang memancarkan sinar
Mengalirkan panas
Mencairkan hati yang sekian lama beku
Menghidupkan jiwa yang sekian lama mati
Nyala bintang semakin terang
Pintu hati tlah dibuka
Ajak bintang menari di angkasa
Awan langitpun terusir
Kilau hati dan bintang kian mempesona
Tibalah kini di ujung pagi
Bintangpun harus pergi
meninggalkan hati
Haruskah hati mati dan membeku lagi .........
Sebutir bintang memancarkan sinar
Mengalirkan panas
Mencairkan hati yang sekian lama beku
Menghidupkan jiwa yang sekian lama mati
Nyala bintang semakin terang
Pintu hati tlah dibuka
Ajak bintang menari di angkasa
Awan langitpun terusir
Kilau hati dan bintang kian mempesona
Tibalah kini di ujung pagi
Bintangpun harus pergi
meninggalkan hati
Haruskah hati mati dan membeku lagi .........
Subscribe to:
Posts (Atom)